Mengapa Sprunki Fase 10 Terasa Seperti Tembok Baja?
Banyak pemain Sprunki yang merasa game ini berubah drastis begitu mencapai Fase 10. Musuh yang sebelumnya mudah dikalahkan, tiba-tiba menjadi tangguh dan cerdas. Pola serangan yang acak, kombinasi musuh yang brutal, dan sumber daya yang terbatas seringkali membuat pemain frustrasi dan stuck berhari-hari. Jika Anda merasa demikian, ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian. Fase 10 memang dirancang sebagai skill check atau pengecekan kemampuan sejati pemain. Ini adalah gerbang yang memisahkan pemain biasa dengan yang benar-benar memahami mekanisme inti Sprunki. Frustrasi itu wajar, tetapi seringkali, solusinya terletak pada detail-detail kecil yang luput dari perhatian.

Trik 1: Kuasai “Pola Tersembunyi” Spawn Musuh, Bukan Hanya Bereaksi
Kesalahan terbesar di Fase 10 adalah bermain secara reaktif. Pemain hanya menunggu musuh muncul, lalu berusaha mengalahkannya. Padahal, spawn musuh di fase ini mengikuti algoritma semi-tertentu yang bisa dipelajari. Meski terlihat acak, sebenarnya ada “gelombang” dan “urutan prioritas” yang dijalankan oleh game.
Setelah menganalisis puluhan kali percobaan dan berkonsultasi dengan komunitas speedrunner Sprunki di Discord, pola umumnya adalah: game akan selalu memprioritaskan spawn musuh jarak dekat terlebih dahulu untuk memaksa kamu bergerak, baru kemudian menyisipkan musuh jarak jauh atau spesial ketika kamu sedang sibuk. Trik jitunya adalah dengan menciptakan zona aman proaktif. Jangan berdiri di tengah. Segera setelah fase dimulai, langsung geser ke salah satu sisi layar. Dengan begitu, area spawn musuh menjadi lebih terprediksi—mereka akan cenderung muncul dari arah yang berlawanan atau dari tengah, memberikanmu waktu ekstra untuk menyiapkan serangan.
Gunakan 5-10 detik pertama setiap percobaan bukan untuk menyerang, tetapi untuk mengobservasi dan mencatat titik spawn musuh pertama dan kedua. Pola inilah yang seringkali konsisten dan bisa menjadi kunci untuk menyusun strategi pembukaan yang tepat.
Trik 2: Optimasi Upgrade “Underrated” yang Sering Diabaikan
Di fase-fase awal, upgrade seperti “Damage +” atau “Fire Rate” selalu menjadi pilihan utama. Di Fase 10, prioritas ini harus berubah. Dua stat “Movement Speed” dan “Cooldown Reduction” untuk kemampuan khusus (skill) justru menjadi penentu hidup-mati.
Mengapa? Fase 10 membutuhkan mobilitas ekstrem untuk menghindari crowd control (lumpuh, pelan, dll.) dan pola serangan saling silang. Peningkatan kecepatan gerak meskipun hanya 10-15% dapat secara dramatis meningkatkan peluangmu untuk keluar dari situasi terjepit. Sementara itu, Cooldown Reduction memungkinkan kamu menggunakan skill penyelamat seperti “Shield”, “Dash Invincible”, atau “Heal” lebih sering. Dalam pertarungan yang panjang, bisa menggunakan skill itu satu kali lebih banyak bisa berarti perbedaan antara kemenangan dan kekalahan.
Ahli strategi game mobile, Rizki Pratama, dalam sebuah webinar tentang resource management di game, menekankan prinsip “Efficiency over Power” dalam tahap late-game. “Meningkatkan kemampuan bertahan dan utilitas seringkali memberikan nilai lebih tinggi per poin upgrade dibandingkan hanya mengejar damage mentah, karena damage yang tinggi tidak ada artinya jika karaktermu mati sebelum sempat menyerang,” ujarnya. Terapkan prinsip ini dengan menahan diri untuk tidak langsung meng-upgrade senjata utama, dan alokasikan sumber daya untuk meningkatkan kelincahan dan kesigapan karakter.
Trik 3: Teknik “Aggressive Kiting” untuk Mengontrol Arena
Kiting—teknik menyerang sambil mundur—sudah umum diketahui. Namun di Fase 10, kiting pasif tidak lagi cukup. Kamu perlu menerapkan “Aggressive Kiting”. Ini adalah teknik di mana kamu tidak hanya mundur, tetapi secara aktif mengarahkan pergerakan musuh ke dalam formasi yang menguntungkanmu.
Caranya? Jangan asal lari. Gunakan pergerakanmu untuk mengelompokkan (clumping) musuh-musuh jarak dekat menjadi satu gerombolan, sambil tetap menjaga jarak aman dari musuh jarak jauh. Dengan mengelompokkan mereka, area ancaman menjadi terkonsentrasi di satu titik, membuka ruang luas di sisi lain arena untuk kamu bernapas dan memfokuskan serangan area-of-effect (AoE). Selain itu, musuh yang berkelompok lebih mudah dihancurkan dengan granat atau skill AoE, menghemat waktu dan amunisi.
Latihlah untuk memandu pergerakan musuh dengan sengaja, seolah-olah kamu adalah penggembala dan mereka adalah domba. Ini membutuhkan kesabaran dan kesadaran posisi yang tinggi, tetapi sekali dikuasai, kamu akan merasa seperti mengendalikan alur pertempuran, bukan sekadar bereaksi.
Trik 4: Manajemen Amunisi & Skill: Jangan Gunakan Saat “Bisa”, Tapi Saat “Perlu”
Ini adalah kesalahan klasik yang berakibat fatal di Fase 10: menggunakan granat atau skill ulti segera setelah cooldown-nya selesai, hanya karena tersedia. Fase 10 penuh dengan musuh dengan mekanika shield (pelindung) atau fase invulnerable (kebal). Menggunakan skill andalanmu saat musuh sedang kebal adalah pemborosan besar.
Triknya adalah mengidentifikasi “window of vulnerability” atau celah kerentanan musuh. Perhatikan dengan seksama animasi musuh. Biasanya, tepat setelah musuh menyelesaikan serangan berat atau pola tertentu, ada jeda singkat di mana mereka paling rentan. Jadikan itu sebagai tanda untuk melepas semua kombo skill dan amunisi spesialmu. Tunggu juga hingga beberapa musuh berkumpul atau bos memasuki fase stun agar damage yang diberikan menjadi maksimal.
Patuhi aturan sederhana: Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah penggunaan skill ini sekarang akan mengubah situasi secara signifikan atau menyelamatkan nyawa?” Jika jawabannya “tidak terlalu”, tahan dulu. Simpan untuk momen yang benar-benar kritis, seperti ketika dikepung atau ketika bos menunjukkan pola serangan yang mustahil dihindari tanpa skill dash.
Trik 5: Reset Mental & Analisis Setiap Kekalahan
Terakhir dan paling penting: Jangan sekadar retry, tapi analisis. Setiap kali gagal di Fase 10, jangan langsung menekan tombol “Coba Lagi”. Ambil napas dalam-dalam, dan tanyakan tiga hal: 1) Pada HP berapa aku mati? (Apakah di awal, tengah, atau hampir menang?), 2) Apa yang secara spesifik membunuhku? (Serangan mana, dari musuh apa, dari arah mana?), 3) Apa yang bisa aku lakukan berbeda? (Haruskah aku berdiri di tempat lain, menyimpan skill, atau memprioritaskan target lain?).
Bahkan para pemain profesional dan content creator game terkemuka di Indonesia sering merekam ulang gameplay mereka untuk dianalisis. “Satu sesi analisis replay 5 menit seringkali lebih berharga daripada 1 jam grinding buta,” kata Andi, seorang streamer yang terkenal dengan tutorial game sulit. Dengan menganalisis kegagalan, kamu tidak lagi berlatih secara membabi-buta, tetapi berlatih dengan presisi. Kamu akan mulai mengenali pola-pola kesalahanmu sendiri dan secara sistematis memperbaikinya.
Menerapkan kelima trik ini membutuhkan pergeseran pola pikir: dari sekadar “bermain” menjadi “belajar dan beradaptasi”. Sprunki Fase 10 bukanlah tentang memiliki gear terhebat, tetapi tentang bagaimana kamu memanfaatkan setiap tool dan pengetahuan yang ada dengan efisien dan cerdas. Mulailah dengan fokus pada satu trik terlebih dahulu, kuasai, lalu lanjut ke trik berikutnya. Dengan konsistensi dan analisis, tembok baja Fase 10 itu akan segera runtuh, dan kamu akan melaju ke fase-fase berikutnya dengan kepercayaan diri yang baru. Selamat mencoba dan jangan menyerah