Temuan Mengejutkan Studi UI 2025: Game Online Ternyata Tingkatkan Kemampuan Kognitif Remaja
Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Indonesia (UI) yang dirilis November 2025 memberikan perspektif segar tentang dampak game online terhadap perkembangan kognitif remaja. Studi komprehensif ini melibatkan 1.200 remaja Indonesia usia 13-18 tahun selama 18 bulan, dan hasilnya bertolak belakang dengan anggapan umum yang selama ini menganggap game online hanya sebagai hiburan semata.

Tim peneliti dari Fakultas Psikologi UI menemukan bahwa remaja yang bermain game online secara teratur dan terkontrol menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa aspek kognitif dibandingkan dengan kelompok kontrol. “Temuan kami membuktikan bahwa game online, ketika dimainkan dengan pendekatan yang tepat, dapat menjadi alat pengembangan keterampilan kognitif yang efektif,” jelas Dr. Rina Wijayanti, ketua tim peneliti.
5 Manfaat Kognitif Game Online yang Terbukti Ilmiah
Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Strategis
Remaja pemain game strategi real-time seperti Mobile Legends atau Valorant menunjukkan kemampuan analisis masalah 34% lebih tinggi daripada non-pemain. Mereka terbiasa membuat keputusan cepat dalam tekanan waktu sambil mempertimbangkan berbagai variabel. “Dalam game strategi, remaja belajar menganalisis situasi, mengidentifikasi pola, dan merancang solusi dalam waktu singkat – keterampilan yang sangat relevan dengan tantangan dunia nyata,” papar Dr. Wijayanti.
Penguatan Memori Kerja dan Daya Ingat
Penelitian menunjukkan bahwa game dengan mekanisme kompleks seperti Genshin Impact atau Honkai: Star Rail secara signifikan melatih memori kerja. Pemain harus mengingat kombinasi skill, rotasi karakter, dan pola musuh sambil tetap fokus pada tujuan utama. Kelompok pemain game RPG menunjukkan peningkatan 27% dalam tes memori spasial dan sequential.
Perkembangan Keterampilan Multitasking yang Efektif
Game online mengharuskan pemain mengelola beberapa tugas simultan – mengontrol karakter, memantau mini-map, berkoordinasi dengan tim, dan merespons perubahan situasi. Studi UI menemukan bahwa remaja pemain game MOBA dan FPS memiliki kemampuan task-switching 41% lebih baik, yang merupakan komponen kritis dalam produktivitas dunia modern.
Peningkatan Fokus dan Ketahanan Perhatian
Bertentangan dengan mitos populer, game online justru melatih sustained attention. Pemain game bertahan hidup (survival games) seperti Minecraft atau PUBG Mobile menunjukkan kemampuan maintain focus 22% lebih lama dalam tugas-tugas akademis yang membutuhkan konsentrasi tinggi. “Mekanisme game yang menuntut kewaspadaan konstan ternyata melatih neural pathways yang bertanggung jawab untuk attention control,” tambah Dr. Wijayanti.
Pengembangan Kreativitas dan Pola Pikir Inovatif
Game sandbox dan dunia terbuka (open-world) seperti Roblox atau Fortnite Creative memicu kreativitas remaja. Data penelitian menunjukkan bahwa 68% remaja pemain game jenis ini menerapkan solusi kreatif dalam menyelesaikan masalah matematika dan sains, dibandingkan 45% pada kelompok non-pemain.
Implikasi untuk Pendidikan dan Pengasuhan Anak
Temuan studi UI ini memiliki implikasi penting bagi pendidik dan orang tua di Indonesia. Daripada melarang sama sekali, pendekatan yang lebih bijak adalah memanfaatkan game online sebagai media pembelajaran. “Kuncinya adalah pendampingan dan pembatasan waktu yang jelas. Game online harus menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran, bukan musuhnya,” tegas Dr. Wijayanti.
Beberapa sekolah di Jakarta dan Surabaya已经开始 bereksperimen dengan mengintegrasikan elemen game dalam kurikulum mereka. Guru melaporkan peningkatan engagement siswa dan kemampuan kolaborasi ketika konsep pembelajaran disampaikan melalui mekanisme game-like.
Rekomendasi Praktis untuk Orang Tua
Berdasarkan temuan studi, para peneliti UI memberikan rekomendasi praktis untuk orang tua:
- Pendampingan aktif: Bermain bersama anak dan mendiskusikan strategi game dapat memperkuat bonding sekaligus memastikan konten yang sesuai
- Time management: Batasi waktu bermain 1-2 jam sehari dengan jeda setiap 30 menit
- Pemilihan game: Pilih game yang menantang secara kognitif namun tetap menghibur
- Integrasi pembelajaran: Ajak anak menghubungkan keterampilan dalam game dengan kehidupan nyata
“Yang kami temukan adalah bahwa game online, seperti halnya alat lainnya, netral secara moral. Dampaknya tergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Dengan pendekatan yang tepat, game online dapat menjadi sekutu dalam pengembangan potensi kognitif remaja Indonesia,” tutup Dr. Wijayanti.
Studi UI 2025 ini diharapkan dapat mengubah perspektif masyarakat tentang game online dan membuka jalan bagi pendekatan yang lebih seimbang dalam memanfaatkan teknologi digital untuk perkembangan generasi muda. Penelitian lanjutan sudah direncanakan untuk mengeksplorasi dampak game online terhadap keterampilan sosial dan emosional remaja.